Act of Valor

Jika Green Zone (2010) adalah sebuah film yang mempertanyakan mengapa pemerintahan Amerika Serikat sepertinya selalu menyelesaikan masalah politik mereka melalui jalan peperangan, maka Act of Valor yang disutradarai oleh duo Mike McCoy dan Scott Waugh mungkin adalah film yang mencoba menggambarkan bahwa peperangan adalah satu-satunya cara untuk dapat melenyapkan seluruh ancaman keamanan yang berniat mengganggu kehidupan rakyat negeri adidaya tersebut. McCoy dan Waugh sendiri memperlakukan Act of Valor layaknya sebagai sebuah adaptasivideo game yang berlatarbelakang kisah di medan peperangan. Act of Valor mampu tampil maksimal dalam menyajikan deretan adegan aksinya yang penuh dengan ledakan, namun sayangnya kemudian tertinggal begitu jauh dalam penulisan naskah ceritanya.

Diisi dengan kisah bertema kepahlawanan yang dilakukan oleh para pembela keamanan negeri Amerika Serikat, Act of Valor kemudian dibuat dengan supervisi dan arahan dari pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat. Beberapa pemeran tim keamanan yang digambarkan dalam film ini, termasuk pemeran dua karakter utamanya, merupakan anggota aktif pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat tersebut, dengan identitas dan nama yang dirahasiakan.Act of Valor sendiri mengisahkan mengenai dua tentara yang saling bersahabat, Liutenant Rorke dan Chief Dave, yang ditugaskan untuk berjuang di medan perang untuk melawan beberapa kelompok teroris yang berniat mengganggu keamanan Amerika Serikat.

Gangguan itu sendiri dimulai ketika seorang penyelundup obat-obat terlarang asal Rusia, Mikhail ‘Christo’ Troykovich (Alex Veadov), menugaskan kelompoknya untuk membunuh dua agen Central Intelligence Agency, Walter Ross (Nestor Serrano) dan Morales (Roselyn Sánchez), yang selama ini telah mengendus keberadaan Christo. Christo berhasil membunuh Walter serta kemudian menculik Morales. Liutenant Rorke, Chief Dave dan anggota pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat kemudian ditugaskan untuk menyelamatkan Morales. Operasi tersebut kemudian berhasil dilaksanakan. Namun, penyelamatan Morales bukanlah akhir dari tugas mereka. Pasukan khusus Angkatan Laut Amerika Serikat kemudian menyadari bahwa Christo telah menjalin kerjasama dengan Abu Shabal (Jason Cottle), pimpinan kelompok teroris yang saat ini sedang bergerilya untuk menebar teror di berbagai kota besar di Amerika Serikat.

Act of Valor tampil dalam balutan momen-momen terbaiknya ketika film ini sedang menyajikan kisah perjuangan para karakternya di medan perang. Momen-momen yang tidak hanya diisi dengan keberhasilan duo Mike McCoy dan Scott Waugh dalam menggarap tampilan ledakan dan adegan aksi yang terasa begitu realistis, namun juga ikatan emosi yang mampu tampil begitu memuncak ketika karakter-karakter dalam film ini saling berusaha untuk menyelamatkan diri dan rekan mereka ketika sedang berada di bawah tekanan medan perang yang siap untuk mengambil nyawa mereka. Tidak ada tampilan aksi dan ledakan yang berlebihan, mengingat bujet pembuatan film ini yang hanya berkisar US$12 juta, namun tetap saja tampilan visual Act of Valor berhasil tampil maksimal.

Sayangnya, keberhasilan tersebut gagal diaplikasikan ke dalam susunan penceritaan film ini. Naskah cerita yang ditulis oleh Kurt Johnstad (300, 2006) nyaris hanya mengandalkan susunan adegan aksi dalam menghidupkan film ini. Selain itu, Act of Valor tampil dengan jalan cerita serta deretan dialog yang datar, cheesy dan cenderung klise. Hal tersebut semakin diperburuk dengan penampilan para jajaran pemerannya yang gagal untuk memberikan karakter yang mereka perankan sebuah ikatan emosional yang mampu membuat penonton peduli dan merasa terikat dengan kehadiran mereka di dalam jalan cerita. Penonton kemungkinan besar hanya akan mampu mengingat berbagai rentetan ledakan yang hadir daripada nama-nama karakter yang menjalankan aksi tersebut selama film ini berjalan.

Well… jika Anda adalah seorang penggemar film aksi yang dipenuhi dengan rentetan ledakan dan sama sekali tidak mempedulikan bagaimana kedalaman kisah dan karakter yang dihadirkan oleh sebuah film, mungkin Act of Valor masih mampu memberikan sebuah hiburan tersendiri bagi Anda. Pun begitu, tidak dapat disangkal bahwa film ini mengandalkan terlalu banyak pada deretan adegan aksi dan ledakannya sehingga sama sekali tidak memberikan ruang yang cukup bagi perkembangan cerita dan dialog yang layak maupun karakter-karakter yang mampu membuat penonton film ini merasa terlibat dengan apa yang sedang karakter-karakter tersebut jalani.

Tautan :

#ActOfValor#

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Perang Modern dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s